Skip to content
  • Inovasi & transformasi
    • Adopsi digital

Membuka kunci konsumen yang paling terhubung di dunia

  • Artikel

Bisnis internet hanya mewakili sekitar 3% dari ekonomi di enam negara besar di Asia Tenggara, tetapi diperkirakan akan tumbuh rata-rata sebesar 32% per tahun di sektor pembelian tiket perjalanan online, media online, e-commerce dan transportasi kendaraan. Pertumbuhan ini didorong oleh perkembangan yang luar biasa: Asia Tenggara memiliki pengguna yang paling banyak terlibat dalam internet di dunia.

Tahun lalu, pemerintah ASEAN telah menandatangani salah satu perjanjian perdagangan e-commerce pan-regional pertama di dunia. Tujuan mereka adalah untuk menciptakan kerangka hukum untuk mengelola penciptaan pasar e-commerce regional dengan cepat melalui perusahaan-perusahaan lokal yang inovatif seperti Lazada, Shopee dan Grab.

Bisnis digital ini cenderung memainkan peran yang semakin penting dalam mendukung pertumbuhan ekonomi di Asia Tenggara. Dewan Bisnis UE-ASEAN mengatakan e-commerce akan membantu bisnis kecil di ASEAN berkembang di luar pasar dalam negeri melalui penjualan barang online untuk ekspor. Dan ada peluang besar di sini. Penelitian telah menunjukkan bahwa usaha kecil dan menengah yang melakukan perdagangan online dapat mencapai hingga sepuluh kali lipat pasar ekspor dibandingkan dengan cara ekspor konvensional.

Tetapi bisnis ini masih menghadapi rintangan yang berhubungan dengan hambatan non-tarif yang terus terjadi terhadap ekspor, serta hambatan infrastruktur untuk mendapatkan penjualan online terhadap konsumen di beberapa negara ASEAN. Perjanjian e-commerce ASEAN tidak memberikan reformasi signifikan hambatan non-tarif, kendala infrastruktur atau regulasi kepada bisnis Asia Tenggara di tempat data harus disimpan. Apa yang dapat ditangkap dari perjanjian tersebut, adalah menempatkan rezim perdagangan e-commerce secara resmi pada agenda integrasi ekonomi kawasan. Ini berarti bisnis sekarang dapat mendorong aturan registrasi bisnis yang lebih terpadu dan mengurangi persyaratan untuk penyimpanan data lokal sehingga komputasi awan dapat digunakan secara lebih efektif.

Perbankan lintas batas akan meningkatkan perdagangan

Sementara perjanjian e-commerce ASEAN sangat luas, Joseph Incalcaterra, Chief Economist ASEAN di HSBC, mengatakan telah menciptakan kerangka kerja bagi beberapa negara untuk mulai menyelaraskan pendekatan mereka terhadap e-commerce — sama seperti yang telah mereka lakukan dengan perbankan lintas batas.

Incalcaterra mengutip Kerangka Kerja Integrasi Perbankan ASEAN sebagai pendekatan praktis yang diberikan untuk perbankan regional dengan memungkinkan negara-negara seperti Malaysia, Filipina dan Thailand untuk mengintegrasikan sistem mereka lebih maju dari negara-negara lain. Kerangka kerja perbankan terintegrasi dijadwalkan mulai beroperasi pada tahun 2020, dan kemungkinan akan diikuti oleh pendekatan yang lebih terpadu untuk sistem pembayaran elektronik di seluruh kawasan, yang akan menjadi perkembangan yang sangat positif untuk e-commerce. Kekuatan keuangan Grab, perusahaan pengangkutan, pengiriman dan pembayaran yang berbasis di Singapura, telah mengumumkan bahwa mereka berencana untuk meluncurkan e-wallet multi-mata uang ASEAN tahun ini, yang akan memungkinkan pengguna yang menerima pembayaran melalui bank dan yang tidak memiliki rekening bank untuk mengirim uang secara instan.

Membuka blokir perbatasan

Namun demikian, perdagangan antara negara-negara ASEAN dan seluruh dunia telah tumbuh lebih cepat daripada perdagangan mereka satu sama lain dalam beberapa tahun terakhir. Ini hanya untuk menggarisbawahi bagaimana e-commerce tertahan oleh peningkatan dalam hambatan non-tarif, meskipun tarif itu sendiri telah dipotong. E-commerce seringkali masih lebih mudah di dalam suatu negara, daripada di seluruh kawasan. Hambatan-hambatan terhadap perdagangan elektronik lintas batas ini menjadikan Indonesia, pasar domestik terbesar di ASEAN, menjadi tempat terjadinya peluang pertumbuhan signifikan. Laporan Google-Temasek 2018 tentang ekonomi digital menyebutkan ekonomi internet Indonesia telah tumbuh pada tingkat rata-rata 49% dalam tiga tahun terakhir.

Peningkatan logistik dan keberhasilan peningkatan modal oleh platform e-commerce menunjukkan pertumbuhan akan terus berlanjut, karena daerah-daerah yang lebih terpencil di kepulauan Indonesia ditarik ke dalam perdagangan digital. Perusahaan e-commerce Asia Tenggara Lazada berinvestasi besar-besaran di gudang sendiri di seluruh negeri untuk mendapatkan kontrol lebih besar atas distribusinya. Dalam upaya meningkatkan bisnis untuk armada kurir sepeda motor dan sistem pembayarannya, Grab telah membeli Kudo, sebuah platform online yang bertujuan untuk membawa pedagang kecil tanpa situs e-commerce mereka sendiri ke pasar digital.

ASEAN mengambil langkah-langkah untuk meningkatkan perdagangan antara para anggotanya dan kemajuan telah dibuat di beberapa bidang. Ini termasuk fasilitas pabean satu-pintu, digitalisasi prosedur pabean, nomenklatur tarif yang diselaraskan, dan satu program tunggal untuk sertifikasi-mandiri sertifikat asal barang, meskipun ini belum sepenuhnya dilaksanakan. Ini semua berarti bisnis yang lebih kecil akan dapat mengekspor dengan biaya lebih rendah.

Perkembangan penting lainnya yang menopang prospek pertumbuhan e-commerce adalah peningkatan besar dalam pengeluaran infrastruktur untuk transportasi dan komunikasi di tempat kemacetan kadang-kadang sering menghambat investasi. Incalcaterra mengidentifikasi Indonesia dan Filipina sebagai dua negara yang sebelumnya tertinggal di belakang wilayah pertumbuhan lainnya, tetapi sekarang berinvestasi besar-besaran.

Digitalisasi membuka pasar ekspor baru

Incalcaterra optimis tentang bagaimana berbagai perkembangan ini mengubah lingkungan operasi untuk usaha kecil dan menengah yang sebelumnya berjuang untuk berpartisipasi dalam integrasi ekonomi Asia Tenggara.

Jika Anda memberikan usaha mikro, kecil, dan menengah alat untuk beroperasi lebh banyak menjual produk secara online dengan cakupan internasional melalui pembayaran elektronik lintas batas, itu sebenarnya merupakan peningkatan nyata bagi seluruh proposisi ASEAN,

Joseph Incalcaterra | Chief Economist, ASEAN at HSBC

Sebuah penelitian oleh Koalisi Perdagangan Asia Pasifik mengatakan digitalisasi dapat mengurangi beban ekspor sebesar 82% dan menghemat waktu yang terlibat dalam ekspor sebesar 29% untuk bisnis yang lebih kecil ini.

Dengan tingkat penggunaan media sosial yang luar biasa di kawasan ini, tantangan utama bagi bisnis yang memasuki saluran penjualan e-commerce adalah mengintegrasikan media sosial ke dalam platform penjualan mereka. Shopee yang berbasis di Singapura dan Mynt yang berbasis di Filipina adalah contoh-contoh dari pemain e-commerce yang melakukan hal ini. Shopee, misalnya, memungkinkan para penjualnya untuk mengobrol secara online dengan pelanggan dan sebagian besar penjualan terjadi setelah interaksi penjual-pembeli ini. Hasilnya, pembeli cenderung mengikuti penjual pilihan mereka sendiri, mempererat hubungan komersial .

Tetapi profil demografis negara-negara Asia Tenggara sangat berbeda, dengan tingkat kelahiran yang tinggi di Filipina dan Malaysia, tetapi terjadi penurunan di Thailand dan Vietnam. Ini berarti, meskipun secara bertahap menghilangkan hambatan untuk perdagangan pan-regional, bisnis di negara-negara ASEAN harus memastikan mereka mengadopsi strategi-strategi e-commerce yang dirancang khusus untuk negara.

Di HSBC, kami memiliki pengalaman lebih dari 130 tahun dalam menghubungkan bisnis ke ASEAN. Dengan solusi trade dan treasury kami yang telah memenangkan penghargaan dan lebih dari 200 lokasi di ASEAN termasuk Singapura, Malaysia, Indonesia, Thailand, Vietnam, dan Filipina, kami dapat menghubungkan Anda.