13 November 2018

Forum Infrastruktur 2018: Investasi dalam Ambisi Pertumbuhan Indonesia

Forum Infrastruktur BKPM-HSBC yang bertemakan “Towards Indonesia 2045” (“Menuju Indonesia 2045”) diadakan di Bali pada tanggal 11 Oktober 2018.

Forum Infrastruktur BKPM-HSBC yang bertemakan "Towards Indonesia 2045" ("Menuju Indonesia 2045") diadakan di Bali pada tanggal 11 Oktober 2018. Forum bisnis ini diselenggarakan oleh HSBC dan Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), membahas berbagai peluang investasi, strategi pendanaan dan upaya kolaborasi untuk mewujudkan target pertumbuhan Indonesia menuju tahun 2045.

Deputy Chairman dan Chief Executive HSBC Asia Pasifik, Peter Wong dalam sambutannya menyebutkan bahwa Indonesia saat ini merupakan negara berpenduduk terbanyak ke-empat di dunia, negara terbesar di kawasan ASEAN, kontributor sekitar 40% PDB ASEAN. Lebih lanjut, Wong menekankan pentingnya pengembangan infrastruktur untuk mendukung pertumbuhan Indonesia. Tantangan yang dihadapi sekarang adalah menjembatani kesenjangan pendanaan kolaborasi antara sektor publik dan sektor swasta; kebutuhan atas kerangka hukum yang tegas bagi proyek infrastruktur; dan kepastian atas keberlangsungan dan ketahanan struktural semua proyek infrastruktur.

Thomas Trikasih Lembong, Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) dalam kata sambutan pembukaannya menekankan pentingnya pembiayaan infrastruktur. Pembiayaan proyek infrastruktur dari anggaran Pemerintah yang berlebihan dapat berdampak pada kebutuhan untuk melaksanakan privatisasi. Selain membicarakan pergeseran transformasional dari kondisi non-likuid ke kondisi likuid, debt ke equity serta dari kelompok kelas pekerja ke kelas menengah, Thomas Trikasih Lembong juga menyampaikan preferensi pasar modal untuk mengubah aset infrastruktur menjadi instrumen likuid yang dapat diperdagangkan. Para pengambil keputusan perlu segera mulai mempertimbangkan instrumen infrastruktur sebagai bentuk alternatif dan instrumen keuangan yang dapat memberikan penghasilan.

Dalam forum tersebut diadakan diskusi panel yang menampilkan Deputi Gubernur Bank Indonesia, Sugeng; Kepala Eksekutif Pengawasan Pasar Modal di OJK, Hoesen; dan Mantan Menteri Keuangan Chatib Basri.

Deputi Gubernur Bank Indonesia, Sugeng, menyebutkan bahwa proyek infrastruktur jangka panjang sangat diperlukan untuk mendukung pertumbuhan jangka panjang – dan terdapat tiga aspek paradigma baru untuk mendukung pertumbuhan lebih lanjut; pertama, pergeseran dari pembiayaan oleh Pemerintah ke pembiayaan oleh swasta; kedua, proyek infrastruktur merupakan sebuah asset class; dan ketiga, keberadaan basis investor yang luas didukung oleh instrumen lindung nilai (hedging) untuk pembiayaan jangka panjang.

Menurut Sugeng, terkait valuta asing (FX), dalam upaya meningkatkan minat pasar, Bank Indonesia menyediakan FX swaps pada tingkat harga yang rendah (termasuk FX swap untuk mengelola likuiditas perbankan dan FX swap yang digunakan untuk lindung nilai). Bank Indonesia juga telah mengembangkan Indonesia Overnight Index Average (IndoNIA) yang diharapkan dapat berfungsi sebagai overnight money market benchmark rate, untuk menggantikan JIBOR mulai Januari 2019.

Sementara itu, Kepala Eksekutif Pengawasan Pasar Modal OJK, Hoesen, menekankan peran strategis pasar modal untuk membantu sektor swasta dalam mengembangkan proyek infrastruktur. Menurut Hoesen, kebutuhan pembiayaan untuk mengembangkan proyek infrastruktur dalam periode 2015-2019 telah mencapai IDR 5,5 triliun; 50% dari jumlah ini dibiayai dari APBN. Sumber pembiayaan lain mencakup BUMN (19,3%) dan kontribusi pihak swasta (30,7%). Berbagai produk pasar modal, antara lain saham, obligasi dan sukuk, investasi swasta, dana infrastruktur, real estate investment trust dan sekuritisasi aset.

Hoesen juga menyebutkan bahwa optimalisasi pasar modal perlu didukung oleh kedua pihak. Dari sisi penawaran, termasuk penambahan jumlah perusahaan yang melakukan IPO serta penerbitan produk investasi untuk proyek infrastruktur. Sementara dari sisi permintaan mencakup perluasan distribusi produk pasar modal dan peningkatan jumlah investor.

Menurut Hoesen, tiga tahap penting selanjutnya adalah: pertama, edukasi bagi calon investor dan perusahaan swasta mengenai berbagai instrumen pasar modal sebagai sumber pembiayaan; kedua, pengembangan kerjasama dengan Kementerian Keuangan untuk memberikan insentif pajak atas instrumen terkait pembiayaan proyek infrastruktur; dan ketiga, upaya mendorong investasi institusional jangka panjang untuk membiayai proyek infrastruktur melalui berbagai instrumen pasar modal.

Perekenomian Indonesia diproyeksikan mencapai peringkat keempat terbesar di dunia pada tahun 2045. Mantan Menteri Keuangan Chatib Basri mengemukakan adanya risiko bagi Indonesia untuk 'menjadi tua tanpa sempat menjadi kaya', menimbang bahwa tingkat pertumbuhan saat ini hanya berada pada kisaran 5%.

Chatib Basri menambahkan bahwa pertumbuhan ekonomi harus lebih tinggi dari 6% untuk dapat mewujudkan ambisi Indonesia. Hal ini dapat dicapai melalui peningkatan produktivitas dan efisiensi. Reformasi struktural merupakan faktor kunci yang dapat mempercepat pertumbuhan ekonomi; termasuk perekonomion terbuka, diversifikasi ekspor, infrastruktur, kualitas sumber daya manusia serta governance.

Pemerintah juga perlu memberikan fokus perhatian pada proyek yang kurang menguntungkan secara komersial dan memberikan kesempatan pada sektor swasta untuk menangani hal-hal yang lebih komersial.

Upaya untuk menarik dana asing ke Indonesia dapat berupa investasi asing atau pinjaman, oleh karena itu berbagai sektor-sektor pembangunan harus dapat membuka diri bagi adanya investasi asing langsung (foreign direct investment). Teknologi  khususnya teknologi digital, juga berperan penting dalam upaya inklusi keuangan untuk perolehan dana.

Lebih lanjut Basri menyampaikan bahwa pertumbuhan ekonomi tidak dapat berjalan tanpa mempengaruhi stabilitas perekonomian makro. Keberadaan teknologi digital dapat menunjang pertumbuhan ini, diikuti oleh investasi dalam pelatihan ketrampilan sumber daya manusia dan manajemen politis. Di samping itu, untuk mendukung pertumbuhan ini, Pemerintah harus terus melakukan berbagai perbaikan, tidak hanya dari segi kebijakan, namun juga harus memberi fokus pada berbagai proyek yang menguntungkan secara komersial.

Acara ini mempertemukan para pemangku kepentingan dalam bidang infrastruktur, investor, lembaga keuangan, enjiniring dan perusahaan konstruksi dari berbagai negara, dan diselenggarakan sejalan dengan Pertemuan Tahunan IMF – World Bank.

Hubungi kami

Pertanyaan dan saran

1500237

atau

+62 21 25514777

(dari luar negeri)

Anda meninggalkan situs HSBC CMB.

Perlu diketahui bahwa kebijakan situs eksternal berbeda dari syarat dan ketentuan situs serta kebijakan privasi kami. Situs berikutnya akan terbuka di jendela peramban atau bilah baru.

Anda meninggalkan situs HSBC CMB.

Perlu diketahui bahwa kebijakan situs eksternal berbeda dari syarat dan ketentuan situs serta kebijakan privasi kami. Situs berikutnya akan terbuka di jendela peramban atau bilah baru.

Anda meninggalkan situs HSBC CMB.

Perlu diketahui bahwa kebijakan situs eksternal berbeda dari syarat dan ketentuan situs serta kebijakan privasi kami. Situs berikutnya akan terbuka di jendela peramban atau bilah baru.